Bukan Corona yang Kutakutkan, tapi Hilangnya Kedaulatan Negara yang Kupikirkan

0
101

Corona datang, mengusik ketenangan banyak negara. Pongahnya China luluh lantak karenanya. Saudi rela kehilangan milyaran pemasukan negara dengan menutup umroh. Amerika, Eropa, Asia dan hampir semua negara dilanda kepanikan. Negara-negara itu anti pati dengan kedatangan orang China.

Korea Utara akan menembak mati langsung, jika ada warganya terdeteksi corona. Duerte presiden Philipina, mengancam memecat langsung pejabat imigrasi jika kedapatan ada orang China masuk negaranya. Korea Selatan, artis-artisnya menyumbang milyaran rupiah untuk negaranya dalam mengatasi corona. Singapura, presiden dan pejabatnya dipotong gajinya diberikan pada medis untuk mengatasi corona, selain dengan membagikan masker gratis.

Namun, lihatlah negeri ini. Mentri kesehatannya bilang, masker mahal kenapa beli? Mentri segala urusan minta TKA China tetap dibiarkan masuk, agar tidak mengganggu investasi. Pemerintahnya gelontorkan milyaran rupiah, memangkas harga tiket pesawat untuk menarik turis asing. Lebih ajaibnya, orang China tetap dibiarkan masuk. Saat semua negara menolak. Membuatku bertanya, yang jadi tuan rumah siapa? Kita atau China? Mungkinkah negara dalam negara itu bukan omong kosong belaka.

Masihkah negeri kita berdaulat? Atau tidak lebih kacung China? Hingga tidak berdaya dengan China. Bukan corona yang menakutkan, tapi hilangnya marwah bangsa. Mungkin saat ini kalian masih terpedaya dengan media. Tiba saatnya mungkin penyesalan yang tersisa. Anak cucu kalian tersingkir dari negara moyangnya. Kita kalah bukan dengan senjata dan peperangan, tapi oleh pengkhianat-pengkhianat bangsa. Jendral Sudirman pernah berkata ‘beri aku sepuluh peluru, satu peluru untuk musuh dan sembilan peluru untuk pengkhianat’. Welcome IndoChina province Of China. Say good bye Indonesia Raya.

https://www.facebook.com/100004119467836/posts/1627249137422386/?sfnsn=scwspmo