Anak-anak dan bayi yang meninggal karena kekurangan pangan dan kehausan di Jalur Gaza terus bertambah. Pada Senin (4/3/2024), jumlahnya bertambah lagi seorang menjadi 16 anak-anak. Sumber-sumber medis telah mengonfirmasi bahwa jumlah anak-anak Palestina yang meninggal akibat kekurangan gizi dan perawatan medis yang tidak memadai telah meningkat menjadi 16 anak, seperti dilansir dari sepublika.

Perang pembantaian dan perang “kelaparan” telah berlangsung selama 150 hari berturut-turut di Jalur Gaza. Kematian Yazan Al-Kafarna sedikit bisa menggambarkan kondisi yang tengah terjadi di Jalur Gaza.

Kafarna berusia 10 tahun dan sempat dirawat di Rumah Sakit Abu Yousef Al-Najjar. Namun, ia juga meninggal di rumah sakit yang sama. Anak ini berubah menjadi “kerangka tulang”, karena kelaparan parah.

Sang Ibu tak pernha befikiri Kafarna akan mengalami penderitaan semacam itu sebelum meninggal dunia. “Kafarna sekarang ‘burung’ di surga, dan saya tidak pernah berpikir bahwa keadaannya akan mencapai titik ini.”

Namun lebih ironi lagi, masyarakat dunia hanya bisa menumpahkan kemarahan di media sosial. Mereka marah karena melihat anak-anak tak berdaya mati kelaparan. Hal itu menandakan teroris Israel menjadikan kelaparan sebagai salah satu ‘senjata’ untuk membunuh warga Palestina.