Suatu saat pada tahun 1525. Matahari mulai tenggelam di daerah Andalusia. Seorang pemuda melewati beberapa sel yang ada dalam sebuah kompleks tahanan tak jauh dari Grenada, ibukota Keemiran Grenada yang runtuh pada 1492 setelah reconquista Spanyol. Nama pemuda itu adalah Adolf Roberto. Badannya yang tegap, gagah dan tinggi besar membuat seluruh tahanan muslim takut dan membungkuk ketika ia melewati sel-sel mereka.

Adolf terus saja berjalan mengawasi para tahanan. Hingga beberapa langkah kemudian ia mendengar suara yang nampaknya cukup mengganggu telinganya. Ia meminta anak buahnya untuk mencari asal suara tersebut.

Setelah ditelusuri ternyata suara itu berasal dari sebuah bilik tahanan yang ukurannya sekadar cukup untuk satu orang. Di dalamnya ada orang tua renta yang badannya hanya tinggal tulang dan kulit. Beberapa lantunan suara lembut keluar dari mulutnya. Tetapi bagi Adolf suara itu membuat telinganya gatal.

Adolf kemudian membentak orang tua itu, “Hai orang tua busuk! Hentikan kata-kata burukmu yang berisik itu atau kau akan kuseret.”

Orang tua itu tak menggubris apa yang dikatakan Adolf. Ia tetap saja melantunkan suara-suara indahnya. Bahkan semakin lama-semakin khusyuk.

Lalu Adolf memerintahkan seorang anak buahnya membuka sel orang tua itu. Diseretnya tubuh lemah orang itu dari dalam ruang tahanannya.

Beberapa orang tahanan yang lain serentak berteriak, “Tenanglah wahai ustadz. Surga Allah telah menantimu. Allahu Akbar!”

“Diam kalian semua!” Adolf mencoba menghentikan kegaduhan para tahanan.

Ia berkata pada orang tua itu, “Ingatlah! Andalusia sekarang telah di bawah kekuasaan Kristen. Dan kau, aku tak segan-segan membunuhmu sekarang.”

“Bunuh saja aku. Aku sama sekali tak takut mati. Aku sudah lama merindukan Tuhanku, Allah.” kata orang tua itu dengan tenangnya.

Tanpa rasa belas kasihan pun ia menyentuhkan ujung rokoknya ke tubuh orang tua tersebut yang ternyata adalah seorang ustadz. Namun sang ustadz seperti tak merasakan sakit sama sekali. Merasa tak puas dengan siksaan yang ia lakukan, Adolf pun menghantamkan sepatu bootnya yang berbobot dua kilogram ke wajah pucat sang ustadz hingga ia tersungkur lemas. Darah pun berlumuran di seluruh wajah ustadz tersebut.

Tiba-tiba sebuah buku kecil keluar dari kantong sang ustadz. Spontan Adolf mencoba mengambil buku tersebut.

“Kau orang najis! Haram kau memegang kitab suci ini.” teriak ustadz tersebut sambil mendekap buku itu di kedua tangannya erat-erat.

Adolf marah dan diinjaknya jari-jari lemah sang ustadz. Suara tulang-tulang yang patah dari jari-jari ustadz terdengar menggetarkan hati, namun tidak bagi Adolf. Tanpa ada daya, sang ustadz merelakan bukunya diambil oleh si sipir yang bengis itu.

Adolf terkejut ketika ia melihat tulisan-tulisan asing yang ada pada buku tersebut. Namun ia merasa pernah mengenali tulisan-tulisan itu. Sejenak ia berkata dalam hatinya, “Sepertinya aku pernah mengenali tulisan-tulisan ini. Tapi kapan ya?”

Rasa ingin tahu yang dalam mulai merasuki hatinya. Sebuah tanda tanya besar terbersit di pikirannya. Ia kembali mengingat-ingat kapan terakhir ia membaca tulisan-tulisan aneh itu. Tiba-tiba saja mulutnya berucap, “Alif, ba’, ta’, tsa’.”

“Ya, ya, aku ingat. Saat aku kecil aku pernah membacanya.”

Di dalam pikirannya Adolf melihat pemandangan paling mengerikan dalam hidupnya dimana umat Islam Andalusia dibantai habis-habisan oleh orang-orang Spanyol di sebuah lapangan. Di sisi kiri lapangan itu tampak para wanita digantung pada tiang-tiang. Sedangkan di tengah-tengah lapangan tepat terdapat tumpukan kayu tempat para pemuda disalib dan dibakar hidup-hidup. Sungguh pemandangan yang mengerikan terbersit di kepalanya.

Seorang anak kecil berlari mendekati tubuh ibunya yang sudah tak bernyawa digantung pada tiang kayu dengan tali. Kepolosannya mengalahkan ketakutan dari siksaan yang dilakukan oleh orang-orang Spanyol terhadap keluarganya.

ibunya yang sudah tak bernyawa digantung pada tiang kayu dengan tali. Kepolosannya mengalahkan ketakutan dari siksaan yang dilakukan oleh orang-orang Spanyol terhadap keluarganya.

“Ibu, ibu, ayo kita pulang! Ibu kemarin kan berjanji akan mengajariku alif ba’ ta’ tsa’.” Kata anak itu dengan polosnya. Ia tak tahu bahwa ibunya telah meninggal.

Ia tak mencari dan memanggil ayahnya. Ia tahu kemarin sore ayahnya diseret oleh dua orang berseragam saat sedang beribadah.

Lalu anak itu menangis tersedu-sedu setelah tahu ibunya telah tiada. Seorang tentara bertubuh tinggi mendekatinya dan bertanya, “Siapa namamu, Nak? Kenapa kau disini?”.

“Aku Ahmad Izzah. Aku menunggu ibuku.”

“Nama yang buruk. Sekarang namamu kuganti menjadi lebih baik, Adolf Roberto. Kau ikuti aku ke gereja biar kau dirawat oleh para pendeta di sana.”

Ahmad Izzah yang kemudian menjadi Adolf Roberto mengikuti tentara itu ke gereja. Sejak saat itu ia dirawat di lingkungan Kristen.

Saat tersadar Adolf teringat pada ayahnya. Ia ingat ayahnya punya tanda hitam di pusarnya. Segera saja ia merobek baju sang ustadz. Dicarinya tanda hitam di pusar ustadz itu. Ternyata sang ustadz memiliki tanda hitam di pusarnya, persis seperti ayahnya dulu.

Seketika Adolf memeluk tubuh sang ustadz dan meneteskan air matanya. Ia meminta maaf pada sang ustadz yang ternyata adalah ayah kandungnya sendiri. Sikapnya yang arogan dan kejam tiba-tiba meluluh saat ia bertemu ayahnya. Ia juga teringat bahwa buku yang direbutnya dari sang ustadz adalah Al-Qur’an yang dulu selalu dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya.

Mendengar suara tangisan si sipir, ustadz tersebut terkejut dan segera menyadari bahwa yang ada di depannya tersebut adalah anak kandungnya, Ahmad Izzah. Ia pun menangis pula, terharu bahwa ia bisa bertemu putranya setelah berpisah berpuluh-puluh tahun lamanya.

“Ayah, aku ingat, alif, ba’, ta’, tsa.” Adolf mengeja huruf-huruf Arab yang diketahuinya seperti saat ia kecil.

“Tunjukkanlah padaku jalan yang kau tempuh itu ayah. Aku ingin kembali kepada kebenaran.” kata Adolf lirih.

Dengan susah payah dan napas yang terengah-engah ayahnya yang sedang mendekati ajal berpesan kepada Adolf, “Putraku, pergilah kamu ke Mesir. Di sana banyak sekali ustadz-ustadz dan syaikh-syaikh yang mampu mengajarimu tentang Islam. Di sana banyak pula kerabat-kerabat kita. Katakan saja pada mereka kau kenal dengan Syaikh Ismail Al-Andalusy. Semoga Allah menunjukkan jalan yang lurus kepadamu.”

Tiba-tiba sang ustadz sadar bahwa ajalnya sudah semakin dekat. Ia pun mengucapkan syahadat “Asyhadu an-la ilaha illa-llah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh.”

Sang ustadz pun pulang ke hadirat-Nya tepat saat ia berada pada puncak kerinduan dengan putranya. Setelah itu Adolf mengusap wajah ayahnya dan menangis sedih sekaligus terharu. Tak percaya atas kejadian yang ia alami saat itu.

Setelah peristiwa mengharukan itu, Adolf Roberto, seorang sipir penjara yang dikenal bengis dan kejam mengganti namanya menjadi Ahmad Izzah sesuai dengan nama kecil yang diberikan ayahnya. Ia pun bertaubat dan berjanji untuk memperjuangkan Islam sebagaimana ayahnya dulu ketika berjuang melawan kebiadaban tentara Kristen Spanyol.

Ahmad Izzah pun pergi ke Mesir sebagaimana perintah ayahnya. Di sana ia bertemu banyak ustadz dan syaikh yang mengajarinya ilmu agama. Kecerdasan yang dimilikinya membuat Ahmad Izzah cepat menyerap ilmu yang diberikan gurunya. Hanya dalam waktu beberapa tahun ia sudah menghafal Al-Qur’an dan menjadi seorang syaikh terkemuka di Mesir. Sejak saat itu ia dikenal sebagai Syaikh Ahmad Izzah Al-Andalusy. Gelarnya, Al-Andalusy merupakan julukan yang diberikan gurunya karena ia berasal dari negeri Andalusia.

SumberSumber