Gaya Minimalis Rasulullah Shallallahu Alayhi wa Sallam

0
72

Jauh, jauh sekali sebelum sekarang, 14 abad yang lalu, Rasulullah telah mencontohkan gaya hidup minimalis.

Tidak sekedar minimalis barang, tapi jauh lebih mendalam lagi pada hakikatnya: minimalis dalam artian yang paling real, tak hanya perabot tapi juga segala hal tentang fasilitas dunia dan pola makan minumnya.

Kita tak ada apa-apanya.

Kadang adakalanya kita bilang ekonomi lagi susah, tapi yakinlah susahnya kita tak akan pernah berbanding dengan susah dan kerasnya ekonomi rumah tangga Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam.

Beberapa waktu lalu, saya diminta menyampaikan tentang Rasulullah, dan mengambil tema tentang Karakteristik Rumah Tangga Rasulullah.

Saat kutanya para ibu dan nenek-nenek yang hadir, apa yang mereka ingat tentang rumah tangga Rasul?
Sontak mereka menjawab dengan berbagai gambaran rumah tangga yang indah-indah: romantis, penuh cinta, suami penyayang, sempurna, rumah tangga sakinah.

Betul, sisi yang indah.

Bagaimana tidak indah, rumah tangga yang dikepalai oleh sosok yang paling indah akhlaknya. 🤗

Namun, begitulah kita pada umumnya: seringkali mudah mengingat hal-hal yang indah dari kebahagiaan orang lain, tapi lupa kisah di baliknya.

===
Pernahkah kita tahu, bahwa kesembilan istri Rasul hidup berdampingan?

Iya, berdampingan secara real!

Sembilan rumahnya menempel pada satu masjid yang tidak cukup besar. Kecil, sempit, dan tidak banyak perabot di dalamnya. Bahkan jika dibandingkan konsep minimalis ala Jepang yang sedang trend, perabot Rasulullah jauh lebih minimalis. Bahkan dalam beberapa riwayat melalui Aisyah dikatakan bahwa sejak menjadi Rasul, Nabi Muhammad belum pernah punya ayakan di rumahnya untuk mengayak gandum menjadi halus. Karena apa? karena sejak menjadi Nabi, tak pernah lagi makan roti yang lembut, yang ada hanya roti kasar dari jewawut! Itu pula yang dimakan para istrinya yang qonaah dan sabar luar biasa!

Duuh, jauh banget kita…ngeluhnya banyak banget masya Allah 😭

Apalagi?
Rumah Rasul itu sempit! Ga ada itu type 36. Betul-betul sempit dalam arti yang sebenarnya!
Saking sempitnya dikatakan dalam riwayat bahwa saat Rasulullah berdiri baru Aisyah radhiyallahu anha bisa tidur menyelonjorkan kaki, dan bila Rasul sujud maka Aisyah harus menekuk kakinya agar Rasul muat bersujud.
Sempit!

Rumah-rumah istri Rasul, tidak dibuat dengan dinding yang tebal seperti yang kita tinggali sekarang. Ada beberapa rumah istrinya yang belum terbuat dari batu bata. Hingga saat Rasul pulang dari perang Daumatul Jandal, terkejut melihat rumah Ummu Salamah sudah direnovasi jadi berdinding batu bata. Ummu Salamah hanya ingin ia betul-betul tidak terlihat dari luar meski dari celah bilik.
Tapi apa komentar Rasulullah?
“Seburuk-buruk harta mu’min ialah yang digunakan untuk bangunannya.” 😭😭

Lalu ada apa dengan kita?
Sibuk bermegah-megahan, memimpikan rumah dunia yang megah. Seolah terkhilaf akan teguran Allah dalam surat at Takatsur.

====
Rasulullah tidak punya spring bed, ataupun kasur busa, bahkan kasur lipat. Tidurnya di atas dipan dilapis pelepah kurma.

Miskin?
Tidak, Rasulullah bukan miskin, tapi minimalis. Rasulullah meminimalisir printilan dunia. Rasulullah tidak mau bermewahan dengan fasilitas yang banyak. Setiap ada harta banyak yang dihadiahkan kepadanya, tak sampai ke rumahnya, sudah habis dibagikan di masjid ke masyarakat muslim.

Rumah istri-istri Rasul memang sempit, namun dalam banyak riwayat dikatakan bahwa rumah mereka sangat-sangat bersih, resik, apik.

====
Bagi Rasulullah, hidup zuhud minimalis adalah pilihan hidupnya. Beliau menikmatinya, sebagaimana beliau menikmati tikar tidurnya yang kasar.

Umar pun menangis melihat tikar tidur Rasulullah. Bahkan para istrinya pun mengkhawatirkan Rasul. Salah seorang istrinya pernah diam-diam melipat tikar kulit jadi empat supaya tebal, diselipkan di bawah alas tidur pelepah kurma Rasul. Maka malam itu Rasul tidur nyaman hingga agak telat qiyamullail. Maka saat menyadari di bawahnya ada tikar kulit, Rasul justru menegur istrinya.
Pernah juga Rasul dihadiahi alas tidur dari anyaman wol, tapi juga dikembalikannya. Tak mau hidup terlalu nyaman.

Apa sih alasannya Rasul memilih hidup seperti itu?

Rasul pernah berdoa meminta kepada Allah, “Ya Allah jadikanlah harta keluarga Muhammad sekedar cukup saja.”

Saat ditanya mengapa memilih hidup begitu, Rasul menjawab, “Jika aku mau aku bisa memintanya kepada Allah. Tapi bagiku, aku dan kehidupan dunia seperti musafir pengembara yang hanya mampir bernanung sejenak di bawah rindang pohon untuk berteduh lalu berlalu pergi.”

Pola fikir. Sudut pandang Rasul tentang dunia. Itulah yang membuat Rasulullah tak pernah membuat rumit urusan dunia. Rasulullah ingin hidup di dunia ini minimalis saja, sekedarnya yang dibutuhkan saja. Dunia bagi Rasul, sejenak saja, kecil tidak ada apa-apanya. Maka Rasul tak pernah berfikir aneka tetek bengek untuk menyamankan hidupnya, juga istri-istrinya yang juga sama tabahnya.

Rasulullah tidak pernah ribet soal makanan, apalagi sampai seperti kita yang meributkan soal aneka jenis makanan lezat di medsos. Rasul itu kalau ke rumah istrinya, kalau ada makanan maka dimakannya, kalau tidak ada makanan ya beliau puasa. Sungguh Rasul membuat mudah saja segala urusan dunia, tidak diributkan tidak diribetkan.

Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Rasul tidak pernah kenyang tiga hari berturut-turut.
Bahkan dikisahkan pernah tiga kali bulan sabit, tak ada asap yang mengepul di dapur rumah tangga beliau. Hingga suatu hari Rasul mendatangi rumah salah satu istrinya menanyakan apakah di rumah istrinya ada kuah supaya Rasul bisa mencelupkan rotinya.

Lalu apa kata istrinya?
Maaf, Rasulullah suamiku, aku tak punya kuah apapun. Saat ini aku hanya punya cuka. Maka Rasulullah pun mencelupkan rotinya ke cuka itu, sambil menghibur istrinya, “Sebaik-baik kuah adalah cuka, sebaik-baik kuah adalah cuka.” 😭😭😭

Sampai di kisah itu, saya pun menangis, tak bisa melanjutkan cerita Rasul di hadapan para ibu-ibu taklim. Saya pun melihat, para ibu di ruangan itu telah basah oleh air mata dan sesenggukan. Sejenak kami tenggelam dalam tangis merutuki diri sendiri betapa buruknya kami mempersiapkan akhirat, begitu banyak tuntutan kami soal fasilitas dunia…Ya Robb…begitu bodohnya kami yang terlalu sibuk dengan dunia dan segala printilannya. Sibuk memikirkan motif bantal dan sprei, motif wallpaper, menu makanan aneka rupa, perabot dapur kekinian…hingga lalai akan akhirat.

Sedangkan Rasulullah dan para istrinya, di tengah kesederhanaannya, di rumah-rumah itulah wahyu Allah turun, hadits-hadits Rasul berpendar, malaikat bertamu, ibadah siang malam ditegakkan, ilmu-ilmu Fiqih untuk wanita diajarkan oleh Aisyah. Ya, dibalik bilik-bilik kecil para istri Rasul.

=====
Lalu apakah para istri Rasul tidak pernah protes?

Pernah!
Bagaimana tidak, setelah Fathu Makkah, harta dunia dibukakan bagi kaum muslimin. Kondisi perekonomian umat menjadi baik, rumah-rumah kaum muslimin menjadi bagus. Tinggallah rumah-rumah para istri Rasul yang tetap gubuk. Tetap makan roti kasar dan kurma seadanya, sekali kenyang, sekali menahan lapar hingga diganjal batu. Bahkan Rasul jarang sekali belanja perabot, saat gelasnya belah pun tak beli baru hanya cukup merekatkannya kembali pecahan itu dengan perak.

Ketika para istri mulai merasa hanya rumah tangga merekalah yang tidak mengalami perubahan, para istri Rasul pun mengajukan perbaikan kehidupan. Namun, Allah dan Rasul Nya menegur para istri shalihat itu…tak ingin ummahatul mukminin suri tauladan seluruh muslimah dari masa ke masa ini menjadi lemah dan larut oleh kecintaan pada dunia.

Ya, ini memang soal teladan, soal sudut pandang tentang dunia. Bukan soal mencintai kemiskinan, karena sekali lagi Rasul itu tidak miskin. Setiap ada harta berlimpah datang padanya, Rasul dan para istrinya berlomba untuk bersedekah.
Bagi mereka, sedekah jauh lebih prioritas daripada kenyamanan fasilitas.

Rasul juga tidak melarang kaum muslimin hidup berkecukupan dan nyaman. Rasul seringkali dijamu makan oleh sahabatnya yang kaya. Rasul pun memenuhi undangan makan itu.

Pernah suatu kali Rasul, Abu Bakar, dan Umar sedang sama-sama kelaparan. Perut mereka diganjal batu saking laparnya. Saat mereka kelaparan begitu, mereka dijamu makan oleh seorang sahabat Rasul makan masakan kambing. Sepulang dari makan-makan itu Rasul bersabda, “Sungguh kita akan ditanya akan nikmat yang kita terima hari ini.”

Masya Allah…
Padahal kita makan enak itu sering banget tapi kita lupa akan ditanya sama Allah 😭😭😭

====
Zuhud, minimalis ala Rasulullah dan istri-istrinya. Mereka berbahagia dengannya, jauh lebih berbahagia karena sedekahnya. Dalam hadits disebutkan Rasul tidak suka menyimpan makanan untuk dibesokkan, kecuali bahan pokok seperti kurma itu pun kadang pada akhirnya diinfaqkan juga.

Lalu, bagaimana dengan kita yang katanya selalu mengaku bahwa teladan utama kita adalah Rasul? Lebih rajin sedekah atau shopping? 😭

–Hani Ummu Ziyad–

“Menulis untuk mengingatkan diri sendiri”

Bogor, 25 Nov 2019