Ini Beda Cinta dan Nafsu dalam Tafsir Para Ulama

Buletin

Ketika Cinta adalah sepatah kata yang tak pernah benar-benar bisa dimengerti definisinya, maka tak sedikit para pecinta atau para penyair cinta yang merasa kebingungan bahkan gagal memberikan penjelasan definisi satu kata yang bisa dirasakan semua jenis manusia itu. Fakta ini agaknya dikarenakan cinta adalah sensasi psikologis, yang akan lebih memungkinkan dimengerti tidak dengan memberikan penjelasan rasional ilmiah, melainkan dengan rasa (dzauq).

Apabila cinta adalah perasaan yang bersumber dari ketulusan kasih sayang, maka cinta tidak akan pernah memberikan apapun selain kebaikan. Perasaan ingin menyayangi, mengasihi, melindungi, menjaga, memuliakan, melayani, berkorban, dan memberikan yang terbaik untuk orang yang dicintai, itulah manivestasi konkrit dari cinta. Apabila ini bisa diterima, maka menjadi jelas bahwa cinta berbeda dengan ketertarikan seksual, syahwat, nafsu birahi, atau bahkan dengan perasaan ingin memiliki. Sebab kalau hanya urusan ketertaikan seksual atau syahwat biologis, tanpa cinta pun bisa jadi.

Pandangan bahwa cinta itu berbeda dengan syahwat atau nafsu ingin memiliki, akan semakin bisa dibenarkan apabila kita merujuk pada sebuah firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an berikut:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلْبَنِينَ وَٱلْقَنَٰطِيرِ ٱلْمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلْفِضَّةِ وَٱلْخَيْلِ ٱلْمُسَوَّمَةِ وَٱلْأَنْعَٰمِ وَٱلْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسْنُ ٱلْمَـَٔابِ

Artinya:

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) (QS. Ali Imran: 14).

Dalam ayat di atas, kata hubb (cinta) disatukan dengan kata al-syahawat (keinginan), secara ilmu gramatika Arab bahwa rangkaian idhafah (penyatuan dua kalimat) menunjukkan perbedaan antara mudhaf (kata yang disandarkan) dengan mudhaf ilaih (kata yang disandari). Dengan kata lain, mudhaf hubb bukanlah mudhaf ilaih al-syahawat. Artinya, cinta bukanlah syahwat.

Imam al-Razi dalam karyanya Mafatihul Ghaib mengutip pendapat para teolog (mutakallimîn) dalam memahaminya :

قال المتكلمون دلّت هذه الآية على أن الحب غير الشهوة لأنه أضاف الحب إلى الشهوة والمضاف غير المضاف إليه

para teolog berkata ”Ayat ini menunjukan bahwa sesungguhnya cinta bukanlah syahwat, sebab cinta disandarkan (mudhaf) pada syahwat (mudhaf ilaih). Dan mudhaf bukanlah mudhaf ilaih”.

Setelah jelas bisa dimengerti perbedaan antara cinta dan nafsu, selanjutnya perlu diketahui alasan atau motivasi seseorang jatuh cinta, sehingga dari sana akan bisa diketahui kualitas cinta seseorang. Apakah cinta yang tulus atau sebenarnya hanya ketertarikan syahwat yang diatasnamakan cinta.

Dalam Ihya’ Ulumiddin, al-Ghazali mengklasifikasikan motivasi atau alasan rasa cinta ke dalam empat kategori:

Pertama, cinta karena faktor internal

Figur yang menarik, baik secara fisik, kepribadian, perilaku, kecerdasan, atau lainnya, adalah unsur-unsur internal (dzati) seseorang yang dinilai indah, disenangi, dan dicintai oleh karakter normal. Unsur-unsur inilah yang pada umumnya menjadi alasan seseorang jatuh cinta. Namun menurut al-Ghazali, rasa cinta kadang bukan termotivasi oleh faktor-faktor figuristik internal tersebut, melainkan karena adanya unsur kecocokan atau kesesuaian (munasabah) abstrak diantara dua orang. Karenanya, tidak jarang dijumpai dua orang yang saling mencintai dan mengasihi tanpa lagi peduli pada faktor-faktor menarik secara figuristik internal. Kecocokan abstrak ini berada di luar jangkauan analisis manusia. Al-Ghazali menyitir sebuah hadits yang mengisyaratkan adanya ketertarikan karena unsur kecocokan abstrak ini.

الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنهَا اخْتَلَفَ

“Jiwa-jiwa manusia adalah pasukan-pasukan yang dilepas. Apabila pasukan-pasukan itu bertemu dan saling mengenal, maka akan terjadi kecenderungan (cinta), dan apabila tidak saling mengenal, maka akan berpaling”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Termasuk dalam kategori cinta ini adalah orang yang mencintai karena kecantikan atau ketampanan paras. Cinta jenis ini bukan termasuk cinta karena Allah, melainkan cinta karena dorongan naluri syahwat. Sebab, syahwat memiliki ketertarikan alamiah pada hal-hal indah, dan menyenangkan (al-ladzah). Karenanya, cinta jenis ini bisa dirasakan baik oleh orang beriman ataupun tidak. Secara hukum, jenis cinta seperti ini tidak berdosa, sepanjang tidak menjerumuskan pecinta pada hal-hal terlarang, seperti melampiaskan hasrat birahi bukan pada tempatnya.

Kedua, cinta karena faktor eksternal duniawi.

Yaitu mencintai seseorang demi mendapatkan tujuan dan kepentingannya di balik cinta yang ia berikan. Dalam kategori ini, orang yang dicintai hanya menjadi alat atau perantara untuk mencapai tujuan yang sebenarnya, sedangkan yang sesungguhnya dicintai adalah apa yang menjadi tujuan dan kepentingannya itu.

Seorang pria mencintai wanita karena kedudukan atau kekayaannya, maka harta dan kedudukan wanita itulah sebenarnya yang menjadi kekasih pria, bukan wanitanya. Wanita dalam kualitas cinta demikian dicintai hanya sebagai sarana yang diperalat untuk memperoleh kekasih dan cinta yang sesungguhnya, yakni harta dan kedudukan. Jenis cinta demikian juga bukan cinta yang tulus, apalagi cinta karena Allah. Dan secara hukum, akan sangat tergantung pada legal-tidaknya tujuan-tujuan duniawi tersebut.

Ketiga, cinta karena faktor eksternal ukhrawi

Yaitu mencintai bukan karena figur dan faktor-faktor internal, atau karena faktor eksternal tapi tidak untuk kepentingan yang bersifat duniawi, melainkan demi kepentingan ukhrawi. Cinta demikian termasuk kategori cinta karena allah. Seperti mencintai isteri shalihah demi keterjagaan agamanya dan memperoleh keturunan shalih yang akan mendoakan, dll. Kendati dalam cinta jenis ini terdapat faktor-faktor eksternal yang bersifat duniawi, namun cinta demikian termasuk kategori cinta fillah, karena yang dicintai bisa menjadi wasilah menuju cinta allah.

Hanya saja, cinta ini termasuk cinta kepada allah dengan syarat, apabila kepentingan-kepentingan ukhrawi yang diperoleh berkurang, maka akan berkurang pula rasa cintanya, dan akan bertambah apabila bertambah keuntungan ukhrawi yang didapatkan. Sederhananya, cinta kepada allah adalah setiap cinta yang andai saja bukan atas dasar keimanan kepada allah, niscaya cinta itu tidak pernah dirasakan.

Keempat, cinta lillah dan fillah
Ini adalah cinta tingkat tinggi. Mencintai karena cinta allah. Artinya, mencintai apapun bukan karena apapun kecuali karena cinta allah. Logikanya, cinta yang besar pada kekasih, akan menjalar pada segala hal yang berkaitan dengan kekasih. Ia akan mencintai orang-orang yang dicintai kekasih: idolanya, temannya, saudaranya, pembantunya, bahkan kekasihnya kekasih. Ia akan mencintai apa saja yang disukai kekasih: hobinya, seleranya, rumahnya, pakaiannya, bahkan kekurangan-kekurangan atau sesuatu yang menyakitkan dari kekasih pun akan dicintai. Seperti kata pepatah, “gara-gara bunga mawar, durinya pun ikut disiram”.

Puncak dari rasa cinta ini akan sampai pada seperti keadaan para perindu allah yang tak dapat lagi membedakan antara kenikmatan dan petaka yang menimpanya, sebab segalanya datang dari allah, sang kekasih tercinta. Harapan dan ratapan akan sama-sama terasa manis baginya. Ia akan mencintai apa saja yang dicintai dan disenangi kekasih, seperti ia juga akan membenci apa saja yang dibenci sang kekasih.

Seorang laki-laki yang jatuh cinta pada wanita, termasuk cinta fiLlah dan liLlah apabila semata-mata atas dasar, oleh karena allah mencintai wanita itu. Selebihnya, hanya “cinta” dalam tanda kutip yang besar.

Dari sini bisa dimengerti bahwa, cinta itu berbeda dengan ketertarikan seksual, ataupun syahwat memiliki. Cinta adalah perasaan yang hanya akan memberikan kebaikan dan pemuliaan kepada pecinta dan orang yang dicintai. Cinta itu membangun, bukan merusak dan menghancurkan. Cinta tidak akan pernah mengizinkan pada sesuatu yang tidak baik. Segala hal yang yang tidak baik, pasti bukan cinta. Karena itu, cinta tak bisa dipaksa menjadi alasan pembenaran segala tindakan yang tidak baik.

Wallahu A’lam

Sumber : bincangsyariah.com