Ittiba’

0
73

JALAN KESELAMATAN ITU ADALAH DENGAN ITTIBA’ (MENGIKUTI) ROSULULLOH SHOLLALLOHU ALAIHI WA SALLAM

‏قال الشيخ محمد بن عبدالوهاب رحمه الله :

(اعلم، أنه ما ينجيك إلا
اتباع الرسول عليه السلام.
والدنيا زائلة
والجنة والنار ما ينبغي للعاقل أن ينساهما..)

الدرر السنية (١/٩٠)

As-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab An-Najdi rohimahulloh pernah berkata :

“Ketahuilah, bahwasanya tidak ada yang bisa menyelamatkan kamu (dari kesesatan di dunia dan dari adzab/siksaan di neraka, pent.), kecuali dengan sikap ITTIBA’ (mengikuti) Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam.

Dunia itu hanyalah sementara, sedangkan surga dan neraka adalah perkara yang tidak sepantasnya bagi orang yang berakal melupakan keduanya (bahwa keduanya akan berlangsung abadi, yakni kenikmatan di surga berlangsung selamanya, demikian pula adzab di neraka juga berlangsung selamanya, pent.) !”

(Ad-Duroru As-Saniyyah, 1/90)

Catatan :

1. ITTIBA’ itu artinya adalah : “menempuh jalan orang yang wajib diikuti, dan melakukan apa yang dia lakukan.”

(lihat : I’Iamul Muwaqqi’in (2/171), karya Al-Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh)

Sikap ITTIBA’ seperti itu, hukumnya adalah WAJIB bagi setiap Muslim.

Ya, setiap orang muslim wajib ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dengan menempuh jalan yang beliau tempuh dan melakukan apa yang beliau lakukan.

Banyak sekali dalil-dalil dari Al-Qur’an yang memerintahkan setiap muslim agar selalu ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Di antaranya adalah firman Alloh subhanahu wa ta’ala :

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ ۖ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ

“Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya.” Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang kafir.” [QS Ali lmran : 32]

Alloh ta’ala juga berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [QS Al-Hujurat :1]

Alloh ta’ala juga berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Hai orang-arang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah Ia kepada Allah (Al-Qur ‘an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [QS An-Nisa : 59].

Alloh ta’ala juga berfirman :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintal Allah, ikutilah aku (Rosululloh), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS Ali lmran : 31]

Dalam hadits yang shohih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah bersabda :

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ , لَوْ أَنَّ مُوسَى كَانَ حَيًّا , مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي

“Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya (Nabi) Musa masih hidup, maka tidak boleh baginya kecuali mengikutiku.”

(HR Abdur Razzaq dalam Mushannaf-nya (6/3), lbnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (9/47), Imam Ahmad dalam Musnad-nya (3/387), dan lbnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Ilmi (2/805), hadis ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani rohimahulloh dalam Irwa’ul Gholil (6/34) )

Syaikh Al-Albani rahimahullah menjelaskan :

“Jika Nabi Musa Kalimullah saja (seandainya beliau masih hidup di jaman Nabi Muhammad) tidak boleh ittiba’ kecuali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu bagaimana dengan yang selainnya ?

Hadits ini merupakan dalil yang qath‘i (pasti) tentang wajibnya mengesakan/menyendirikan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dalam hal ittiba’. Dan ini merupakan konsekuensi dari syahadat “wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah.”

Karena itulah Allah ta’ala sebutkan dalam ayat di atas (QS Ali lmran : 31), bahwa ittiba’ kepada Rasulullah bukan kepada yang lainnya, adalah dalil kecintaan Allah kepadanya.”

(Muqaddimah Bidayatus Sul fii Tafdhili Rosul, hal.5-6)

2. Demikian juga Allah ta’ala memerintahkan setiap muslim agar ittiba’ (mengikuti) kepada Sabilil Mukminin, yaitu jalan yang pernah ditempuh oleh para Sahabat Rasulullah, dan mengancam dengan hukuman yang berat kepada siapa saja yang menyeleweng darinya.

Sebagaimana ditegaskan oleh Alloh ta’ala dalam firman-Nya :

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan dia ke dalam neraka jahanam, dan jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” [QS An-Nisa’ : 115]

3. Kemudian, termasuk dari sikap ittiba’ juga adalah : jika kita mengikuti suatu perkataan/pendapat seseorang, yang nampak bagi kita keshohihannya/kebenaran pendapatnya tersebut.”

Sebagaimana hal itu dikatakan oleh Al-Imam Ibnu Abdil Barr rohimahulloh dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlihi (2/787).

Al-Imam Asy-Syafi’i rohimahulloh juga pernah berkata :

“Aku tidak pernah mendebat seorang pun kecuali aku katakan : “Ya Alloh, jalankan kebenaran pada hati dan lisannya. Jika kebenaran ada bersamaku, maka dia akan ittiba’ kepadaku. Dan jika kebenaran ada bersamanya, maka aku akan ittiba’ kepadanya.”

( Qawa’idul Ahkam fii Masholihil Anam (2/136), karya Al-’Izz bin Abdis Salam)

Demikianlah diantara pengertian ITTIBA’. Khususnya ittiba’ kepada Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam.

4. Ketahuilah, sikap ITTIBA’ seperti penjelasan di atas itulah jalan keselamatan bagi seseorang, di dunia maupun di akhirat nanti !

Disebutkan dalam hadits yang shohih :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى ؟ قَالَ : مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

“Semua umatku akan masuk surga, kecuali orang yang enggan (tidak mau masuk surga).” Para Sahabat bertanya : “Wahai Rasûlullâh, siapakah orang yang enggan itu ?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Siapa yang mentaatiku, niscaya dia akan masuk surga. Dan siapa yang bermaksiat (durhaka/tidak mau taat) kepadaku, maka dia itulah orang yang enggan (tidak mau masuk surga) !”

(HR Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab al-I’tisham bil Kitab wa As-Sunnah, Bab Al-Iqtida’ bi Sunani Rasûlillâh, no. 7280, juga Al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya no. 8728, dan Al-Imam Al-Hakim dalam Al- Mustadrak, Kitab al-Iman no. 182)

Dalam hadits yang lainnya, Nabi shollallohu alaihi wa sallam juga pernah bersabda :

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini, baik Yahudi maupun Nashrani, yang mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dunia/mati dalam.keadaan dia tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya (yaitu agama Islam, pent.), kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim no. 153, dari Abu Hurairoh rodhiyallohu anhu)

Demikianlah….

Kita memohon Taufiq/Hidayah kepada Alloh ta’ala, agar kita istiqomah untuk ber-ittiba’ terhadap Sunnah Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam, dan dijauhkan dari kebid’ahan.

Karena hanya dengan sikap itulah, jalan keselamatan bagi kita, di dunia maupun di akhirat nanti…..

Wallohu Waliyyul Mu’miniin..

Surabaya, Sabtu pagi yg sejuk, 15 Dzulqo’dzah 1442 H / 26 Juni 2021 M

Oleh : Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby