Kuasa Itu Ada Ajalnya

Buletin

Boleh hari ini tertawa lebar

Silakan hari ini merasa menang merasa paling benar
Semua milikmu
Semua dalam genggamanmu
Semua “ditentukan” olehmu

Lanjutkan dan habiskan kezoliman, syahwat kuasa dan nafsu duniamu
Tak akan pernah ada yang akan menghalangimu
Sebab sebelum datang yang menentangmu
Niatnya untuk menentangmu pun sudah engkau bunuh
Dengan aturan yang sewenang-wenang
Dengan hoax-hoaxmu yang “maha dahsyatnya”
Dengan senjata yang kau gunakan untuk membunuh siapa saja yang berani melawanmu
Dan dengan uang yang tak terhitung jari, kau beli para ulama su’, kaum cerdik yang picik, para politisi yang banyak cari muka dan bermuka dua, termasuk rakyat jelata yang cukup bahagia diberi sebungkus nasi
Semua bisa kau beli untuk jadi pelindung kezoliman yang kau pamerkan atas nama kuasa, atas nama aturan

Sekali lagi, silakan habisi semua penentang dan yang menghalangi ambisi kuasamu, selagi Allah masih memberi waktu kuasamu Habiskanlah seluruh hawa nafsu duniawimu Jangan kau sisakan sebutir debupun
Mumpung Allah masih mengulur waktu kezolimanmu
Karena jika sudah tiba saatnya ajal kuasamu, kau tak akan lagi setetespun mendapatkan air kuasa yang selama ini memabukan akalmu dan menghilangkan yakinmu pada kehidupan akhirat yang abadi

Bukankah saat tibal ajal kuasamu, kau hanya akan menerima bagian kehinaan, penyesalan, dan kepedihan siksa lahir dan batinmu, baik itu di dunia maupun akhirat

Kuasa yang pernah kau miliki, tak akan pernah bisa menolongmu dari adzabNya
Kekayaan yang melangit yang kau miliki, tidak akan pernah bisa membeli untuk membebaskanmu dari murkaNya dan dahsyatnya siksa jahanam yang menjadi tempat tinggalmu

Saat tiba ajal kuasamu
Kau hanya bisa tertunduk dalam kehinaan yang sehina-hinanya di hadapan Allah sebagai satu-satunya Yang Maha Kuasa sebenarnya

Sebelum semua itu terjadi, aku harap kau bertobat dan aku memohon padaNya agar engkau mendapatkan taubatan nasuha yang Allah karuniakan padamu

Namun, jika doaku ini kau anggap angin lalu dan bahkan kau olok-olok, aku serahkan dirimu pada Allah saja. Biarkanlah KemahaadilanNya yang akan menentukan nasib kuasamu dan hidupmu.

Sumber: https://t.me/SastraPembebasan