Masyarakat dihebohkan oleh kekerasan di kalangan anak SMP di Cilacap, Jawa Tengah. Kasus perundungan itu viral lewat video di media sosial. [1] dalam video tersebut terlihat ada seorang laki-laki yang sedang dibullying oleh seorang temannya.

Mirisnya di video tersebut banyak teman-temannya yang melihat kejadian tersebut tidak ada yang berani membela anak yang sedang dibullying itu. Dari berita tersebut merupakan salah satu dari banyaknya kasus pembulliyan. Mengapa pembuliyan sering terjadi? Berikut penjelasanya.

Pengertian Bullying

Dalam bahasa Indonesia, secara etimologi kata bullying berarti penggerak, orang yang mengganggu orang lemah. Istilah bullying dalam bahasa Indonesia bisa menggunakan menyakat (berasal dari kata sakat) dan pelakunya (bully) disebut penyakat. Menyakat berarti mengganggu, mengusik, dan merintangi orang lain. [2]

Dari definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa bullying adalah salah satu masalah sosial yang dilakukan oleh orang yang kuat terhadap orang yang lebih lemah dan biasanya dilakukan secara berulang hingga menyebabkan kerugian terhadap korbannya.

Faktor-Faktor Terjdinya Bullying

  1. Faktor Individu

Terdapat dua kelompok individu yang terlibat secara langsung dalam peristiwa bullying, yaitu pelaku bullying dan korban bullying. Kedua kelompok ini merupakan faktor utama yang mempengaruhi perilaku bullying. Ciri kepribadian dan sikap seseorang individu mungkin menjadi penyebab kepada suatu perilaku bullying.

2. Faktor Keluarga 

Latar belakang keluarga turut memainkan peranan yang penting dalam membentuk perilaku bullying. Orang tua yang sering bertengkar atau berkelahi cenderung membentuk anak-anak yang beresiko untuk menjadi lebih agresif. 

Penggunaan kekerasan dan tindakan yang berlebihan dalam usaha mendisiplinkan anak-anak oleh orang tua, pengasuh, dan guru secara tidak langsung, mendorong perilaku bullying di kalangan anak-anak. Anak-anak yang mendapat kasih sayang yang kurang, didikan yang tidak sempurna dan kurangnya pengukuhan yang positif, berpotensi untuk menjadi pelaku bullying.

3. Faktor Teman Sebaya 

Verlinden mengungkapkan Teman sebaya memainkan peranan yang tidak kurang pentingnya terhadap perkembangan dan pengukuhan tingkah laku bullying, sikap anti sosial dan tingkah laku devian lain di kalangan anak-anak. 

Kehadiran teman sebaya sebagai pengamat, secara tidak langsung, membantu pelaku bullying memperoleh dukungan kuasa, popularitas, dan status. Dalam banyak kasus, saksi atau teman sebaya yang melihat, umumnya mengambil sikap berdiam diri dan tidak mau campur tangan. 

4. Faktor Sekolah 

Pearce dan Thompson mengungkapkan lingkungan, praktik dan kebijakan sekolah mempengaruhi aktivitas, tingkah laku, serta interaksi pelajar di sekolah. Rasa aman dan dihargai merupakan dasar kepada pencapaian akademik yang tinggi di sekolah. 

Jika hal ini tidak dipenuhi, maka pelajar mungkin bertindak untuk mengontrol lingkungan mereka dengan melakukan tingkah laku anti sosial seperti melakukan bullying terhadap orang lain. Managemen dan pengawasan disiplin sekolah yang lemah akan mengakibatkan lahirnya tingkah laku bullying di sekolah.

5. Faktor Media 

Paparan aksi kekerasan yang sering ditayangkan oleh televisi dan media elektronik akan mempengaruhi tingkah laku kekerasan anak-anak dan remaja. Beberapa waktu yang lalu, masyarakat diramaikan oleh perdebatan mengenai dampak tayangan kekerasan pada video youtube. Facebook dan lain-lainnya yang dikatakan telah mempengaruhi perilaku kekerasan pada anak-anak. 

para ahli ilmu sosial umumnya menerima bahwa tayangan yang berisi kekerasan akan memberi dampak baik jangka pendek maupun jangka panjang kepada anak-anak. f. Faktor Self-Control Sebuah penelitian dengan sampel 1315 orang pelajar sekolah yang dilakukan oleh Unnever & Cornell tentang pengaruh kontrol diri yang rendah.

Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) menyimpulkan para pelajar yang menjalani treatmen ADHD mengalami peningkatan risiko terhadap perilaku bullying dan menjadi korban bullying. 

Analisis mereka juga mendapati bahwa kontrol diri mempengaruhi korban bullying melalui interaksi dengan jenis kelamin dan ukuran besar badan, serta kekuatan. Penelitian mereka juga berkesimpulan bahwa kontrol diri yang 46 rendah dan ADHD sebagai faktor kritis yang menyumbang kepada perilaku bullying dan menjadi korban bullying.[3]

Kesimpulan

Dari penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa bullying bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Selama ada orang yang dianggap lemah baik lemah fisik maupun psikis maka pelaku akan melakukan bullying.

Untuk bagaiamana menyikapi bullying akan dijelaksan pada artikel berikutnya.

Wallahua’lam

***

Tentang Penulis
Judul asli artikel “KENAPA BULLYING SERING TERJADI” ditulis oleh Ustadz A Khaerul Mu’min, M.Pd. beliau juga Konsultan Keluarga, Kesehatan dan Karir, Dosen STEI Bina Cipta Madani Karawang serta Penulis Karya Ilmiah
Bagi yang mau konsultasi keluarga, kesehatan dan karir hubungi :
Laki-laki : +62857-1513-1978
Perempuan : +62855-1777-251