Semasa hidupnya, Ali bin Abi Thalib dan istrinya, Fatimah Az-Zahra dapat saja hidup dengan mudah dan harta yang berlimpah. Karena mereka adalah putri dan menantu Nabi Muhammad SAW. Namun hal itu tidak mereka lakukan.

Pernah satu hari, menurut cerita Imran bin Hushain, Fatimah muncul di depan Rasulullah dengan wajah kekuning-kuningan dan pucat akibat kelaparan. Rasulullah lalu berkata, “Mendekatlah Fatimah.”
Setelah itu beliau berdoa, “Ya Allah yang mengenyangkan orang yang lapar dan mengangkat orang yang jatuh, janganlah engkau laparkan Fatimah binti Muhammad.”

Imran bersaksi, “Darah tampak kembali di wajahnya dan hilanglah kekuning-kuningannya.”

Kesederhanaan hidup Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra adalah sesuatu yang dijaga, sebagai bentuk sikap istiqamah agar tidak mendewakan dunia. Rasulullah pun ikut terjun langsung menjaga akhlak keluarga buah hatinya.

Sebuah kisah datang dari Musa bin Ja’far sebagai berikut.

Ketika bertemu dengan ayahnya, Fatimah mengenakan sebuah kalung. Melihat hal itu, segera ayahnya berpaling darinya. Fatimah pun melepaskan kalung itu.

Dengan gembira, Rasulullah berkata, “Wahai Fatimah, engkau adalah dariku.”

Tidak lama kemudian lewatlah seorang pengemis. Rasulullah pun memberikan kalung Fatimah kepada pengemis tersebut.

Kemudian beliau berkata, “Allah sangat marah kepada orang yang menumpahkan darahku dan menyakitiku lewat keturunanku.”

Memang sangat menyakitkan bagi Rasulullah, melihat Fatimah mengenakan perhiasan dunia, sementara masih banyak kaum muslim yang miskin papa.

Asma binti Umais pernah bercerita bahwa ia sedang berada di rumah Fatimah ketika Rasulullah masuk dan melihat kalung emas di leher Fatimah Az-Zahra. Kalung tersebut pemberian dari suaminya, Ali r.a.

Rasulullah berkata, “Anakku, janganlah engkau membuat orang-orang berkata, ’Fatimah binti Muhammad memakai pakaian kesombongan.”

Fatimah langsung mencopot dan menjualnya hari itu juga. Hasil penjualannya ia gunakan untuk memerdekakan seorang budak wanita mukmin. Rasulullah sangat gembira ketika berita itu sampai kepadanya. (Bersambung)