Dan inilah awal dari perlawanan sengit dan pertempuran itu. Pasukan musuh langsung berhadapan dengan meriam-meriam pasukan Utsmaniyah tanpa mereka sadari. Meriam-meriam itu langsung menyalak menyambut 100 ribu pasukan Eropa yang tidak sadar telah masuk jebakan. Tidak sampai satu jam, musnahlah pasukan Eropa dihantam oleh meriam dari segala arah. Kisah ini menjadi kenangan hitam bagi orang-orang kafir sampai saat ini.

Sisa-sisa pasukan Eropa yang di garis belakang berusaha lari menyeberangi sungai. Apadaya karena ketakutan dan berdesak-desakan, ribuan prajurit mereka banyak yang tenggelam di sungai. Akhirnya pasukan Eropa hendak menyerah.

Sultan Sulaiman mengambil keputusan: Tidak ada tawanan!

Keputusan Khalifah Sulaiman Al-Qanuni tersebut tidak akan pernah dilupakan oleh bangsa Eropa sampai sekarang, dan mereka mengingatnya dengan penuh dendam.

Maka seluruh pasukan Utsmaniyyah menyerahkan kembali senjata kepada pasukan Eropa yang ditawan, agar mereka berperang lagi atau terbunuh! Akhirnya pasukan musuh memilih untuk kembali berperang dengan rasa putus asa.

Berakhirlah perang Mohacs dengan tewasnya raja Hongaria Louis II beserta para uskup. Mereka yang tujuh orang mewakili nasrani dan utusan paus beserta 70 ribu lebih pasukannya, menyerah. Disamping itu, 25.000 ditawan dalam keadaan terluka.

Menyambut kemenangan itu, pasukan Utsmaniyyah melakukan parade militer di ibukota Hongaria. Setelah dua hari mengurus semua urusan kenegaraan disana, akhirnya Khalifah Sulaiman pulang kembali ke Turki.

Pasukan Utsmaniyyah yang gugur dalam perang itu hanya 150 orang saja dan tiga ribu lainnya terluka. Selebihnya pasukan masih sempurna tanpa kurang suatu apapun.

Subhanallah, Walhamdulillah 🙂

Kisah perang Mohacs di masa lalu menjadi gambaran pelajaran, bagaimana umat Islam saat itu mampu menyusun strategi pertahanan yang kuat dalam melawan musuh, meskipun pihak lawan jumlah kekuatannya 2 kali lipat dari pasukan muslimin. Sikap tidak mudah menyerah, kerjasama yang baik dan terus berusaha dalam berjuang itulah kunci suksesnya. Jika kemenangan telah diraih, hal itu tidak lantas membuat pasukan muslimin mau berbuat semena-semena.

Pemimpin muslim memerintahkan agar tidak ada tawanan dari pihak musuh, justru tawanan yang sehat harus dilepas. Harta benda mereka pun dikembalikan. Sebelum dilepas, tawaran hanya dua opsi yaitu disuruh menyerah, atau harus bertempur lagi. Itulah kebijakan dan strategi berperang dari Sultan Sulaiman al-Qanuni yang bisa kita ambil hikmahnya, terutama bagi para pemimpin muslim saat ini.

Semoga bermanfaat
dikutip dari:
Telegram Dakwah Islam 28 Desember 2015, 16:22 pada 20 September 2016
Kisah Teladan