Taubatnya Malik Bin Dinar Bagian 3

0
8

Setelah mendengar nasihat dari orang tua itu, Malikpun terus berlari sehingga dia sampai ke sebuah bukit yang agak tinggi dan akhirnya sampai ke puncaknya. Ketika dia melihat ke bawah alangkah terkejutnya dia mendapati neraka terbentang luas. Beliau hampir terjatuh ke dalam neraka itu, karena rasa takut dan terkejut dengan ular besar yang senantiasa mengejar dirinya. Kemudian Malik mendengar satu suara yang sangat kuat, menyuruhnya mundur dari tempat itu.

“Wahai Malik, silakan engkau mundur dari sini! karena engkau bukan termasuk ahlinya,” kata suara itu.

Agak tenanglah hati Malik setelah mendengar suara itu, namun jika dia mundur ke belakang, maka didapatinya ular itu belum berhenti mengejarnya. Oleh sebab tidak ada jalan lain lagi, maka Malik terpaksa putar balik ke arah belakang hingga dia bertemu kembali dengan orang tua tadi.

“Wahai Syeikh! Aku benar-benar minta pertolongan engkau untuk menyelamatkan aku dari kejaran ular itu, tapi mengapa engkau enggan?” tanya Malik. Orang tua itu menjawab “Sudah aku katakan, bahwa aku ini sudah tua dan sangat lemah” jawabnya.

Lalu orang tua itu menunjuk ke arah sebuah bukit yang lain, dan menyuruh Malik bin Dinar pergi ke bukit itu karena di sana terdapat sebuah rumah.

Tanpa buang-buang waktu Malik segera berlari menuju bukit itu. Dibelakangnya, sang ular masih juga mengejar dengan ganasnya. Setelah sampai di puncak bukit, tampak ada sebuah bangunan yang berbentuk tirus kubah bertingkap. Pada tiap-tiap tingkat kelihatan pintu yang teramat indah. Semua pintu itu bertahtakan mutiara yang indah dan zamrud yang berkilau-kilauan. Kemudian dia coba memanjat pintu itu, lalu terdengar satu suara aneh, yang menurut fikirannya adalah suara malaikat berseru: “Bukalah pintunya dan angkatlah kain penutupnya. Keluarlah kamu sekalian, barangkali ada diantara kamu yang dapat menolong orang jahat ini”.

Setelah mendengar suara tersebut, tiba-tiba semua pintu terbuka dan sungguh aneh yang keluar dari pintu itu adalah semuanya anak-anak dengan wajah/muka yang berseri-seri. Mereka memandang kepadaku dengan penuh belas kasihan, karena melihat aku sedang dalam ketakutan dikejar ular. Tiba-tiba aku melihat anakku Fatimah yang berusia dua tahun ada bersama-sama kumpulan anak-anak itu. Seketika Fatimah memandangku, dia pun menangis, lalu berlari memelukku. Kemudian tangan Fatimah menunjuk ke arah sang ular, dan secara tiba-tiba ular itupun pergi. Ular raksasa yang amat menakutkan itu kemudian lenyap dari pandanganku. (Bersambung)